FILSAFAT ILMU "NEOPLATONISME"
FILSAFAT
ILMU
“NEOPLATONISME”

Disusun
oleh:
Nama : Sarah Muktiati
Kelas/NIM : 3G/153221251
PENDIDIKAN BAHASA
INGGRIS
FAKULTAS ILMU TARBIYAH
DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM
NEGERI SURAKARTA
2016
BAB I
PENDAHULUAN
Seperti yang telah kita ketahui bersama
bahwa kemunduran kerajaan Romawi memberi dampak yang teramat besar bagi
perkembangan filsafat, hal tersebut dikarenakan filsafat yang sedikit demi
sedikit kehilangan keorisinialnya atau keasliannya dan tentu daya kreasinya
juga. Banyak faktor yang menjadi sebab kemunduran tersebut, mulai dari politik,
timbulnya kekuasaan tentara, kebebasan penduduk yang terenggut sampai dengan
sistem perekonomian yang carut marut di dalam dan diluar negeri. Seiring dengan
kemunduran dari berbagai bidang, soal-soal spiritualpun juga ikut mempengaruhi
kemunduran kerajann Romawi walaupun oleh para penulis hal itu sering
dilebih-lebihkan. Akibat hal tersebut filsafat mulai kehilangan keasliannya dan
saling berlomba untuk memperoleh keunggulan, diantaranya yaitu: Neo-Phtagoras dan Platoeclectica. Seiring
berjalannya waktu munculah ajaran Plotinus
yang disebut juga Plotinisme atau Neo-Platonisme. Mulai dari timbulnya
Neoplatonisme ini, filsafat banyak
diwarnai oleh unsur-unsur agama. Di sini pemikiran filsafat disusun secara
sistematis. Kebangkitan pemikiran filsafat kuno ini bersama kelahiran filsafat
Kristen sehingga terjadi pergumulan yang sangat dahsyat antara keduanya.
Pemikirannya Plotinus ini dipengaruhi oleh Plato, disamping Aristotales,
Pythagoras, Epikuros, Zeno dan kaum Stoa. Apabila Plato mendasarkan ajarannya
kepada yang baik yang meliputi segala-galanya, ajaran Plotinus berpokok kepada
yang satu. Yang satu itu pangkal dari segala-galanya. Meskipun filosofinya
berdasarkan ajaran Plato, ia juga mengambil jajaran dari filosofi-filosofi
sesudah Plato, selama ajaranajara tersebut sesuai dengan ajaran agamanya.
Dua tokoh yang sering muncul pada filsafat ini adalah
Ammonius Sakkas dan Plotinus. Ammonius Sakkas tidak meninggalkan tulisan
apapun, sehingga ajarannya hampir tak dapat diketahui. Orang dapat mengetahui tentang
pemikiran filsafat Neoplatonisme ini melalui Plotinus.
BAB II
PEMBAHASAN
Sebelum munculnya
ajaran neoplatonisme banyak faktor yang mendasarinya, antara lain: Mundurnya kerajaan Romawi, salah satu
faktor terpenting yang mendasari kemunduran kerajaan romawi adalah lemahnya
pemerintah pusat yang disebabkan oleh sistem pemerintah yang tidak sesuai atau
tidak pas pada waktu itu yang menyebabkan daerah-daerah perbatasan menjadi
negara yang berdiri sendiri yang terlepas dari pusat. Faktor lain yaitu
timbulnya kekuasaan tentara, yang dalam praktiknya bertindak sendiri atau
sesuka hati, bahkan dalam kenyataannya mereka bisa memecat atau mengangkat
raja-raja. Tentara tidak mengenal disiplin dan jenderal-jenderalnya lebih
mendambakan kekuasaan politik dan mengacuhkan pertahanan negara. Penduduk
kehilangan kebebasannya sesudah masa Aurelius(121-180 M). Menteri-menteri
kehilangan fungsinya sebagai badan politik, sedangkan raja menjadi seorang
diktator. Sistem tanah di Romawi menimbulkan kemerosotan ekonomi, dimana
kebanyakan petani hanya menjadi budak para tuan tanah dan petani sulih sekali
mendapatkan untung hal ini lah membuat petani pergi ke kota untuk mencari
peruntungan dan terlepas dari tuan tanah namun kehidupan mereka menjadi lebih
sengsara karena di kota mereka hidup dari belas kasih orang-orang. Perdagangan
luar negeri juga merosot dan negara mengalami inflasi, kemudian kantor-kantor
negara menjadi sarang tikus berdasi, korupsi merajalela, suap dimana-dimana dan
sekali lagi rakyatlah yang menderita[1].
Kehilangan
Moral, agama romawi kuno mulai ditinggalkan orang dan diganti dengan
kepercayaan timur, akibat hal itu unsur-unsur kepercayaan mulai mengalami
perubahan dalam kehidupan bangsa romawi. Masuknya gelombang ajaran agama
kristen membuat banyak orang romawi mengeluh tentang keakheratan, fanatik dan
sikap perang-perangan yang timbul dari orang kristen. Namun Yuliah mencoba
menghidupkan kembali agama paganisme, ia kemudian giat menulis yang isinya
bahwa agama kristen adalah pancaran dari agama yahudi yang dipandangnya lebih
rendah dari agama berhala. Namun pada tahun 392 Theodosius melarang agama
keberhalaan.
Kemunduran
Filsafat, filsafat mulai kehilangan keasliannya dan munculah 2 aliran yang
saling berlomba-lomba untuk memperoleh pengakuan, yaitu: Neo-Phytagoras dan
golongan Platoeclecta. Yang mengusung ajaran Neo-Phytagoras antara lain
Figulus, Apollonius dari Tyana, Moderatus dari Gades, dan Nicomachus dari
Geresa. Diantara mereka Apolloniuslah yang dianggap paling hebat oleh pengikut-pengikutnya.
Aliran ini mengambil dari berbagai aliran-aliran filsafat antara lain Plato,
Aristoteles, Socrates dan terutama phytagoras. Aliran ini membedakan langit dan
bumi menurut cara Aristoteles, mereka percaya bahwa langit abadi sedangkan bumi
tidak. Seperti halnya Plato, mereka menekankan pada tindakan saling tolong
menolong dan kesempurnaan yang dimiliki alam semesta. Agama telah memainkan
peranan yang sangat tinggi daam filsafat mereka tanda-tanda keibadatan semakin
menjadi jelas[2]. Karena
hal itu mereka menjalankan pengekangan makan daging dan menentang perkawinan.
Perbedaan antara aliran Phytagoras dan plotinus eclectica kadang-kadang sulit
untuk diketahui keculi bahwa aliran terakhir ini lebih banyak dibentuk dari
pikiran-pikiran Plato daripada pikiran-pikiran Phytagoras, ada dualisme antara
kealaman dan prinsip-prinsip kerokhanian. Bermacam-macam pikiran tersebut
ditambahkan pada filsafat plato dan ditekankan pada dewa-dewa perantara antara
manusia dan Tuhan. Pada akhir abad ke III M dan berasal dari Mesir, terdapat
tulisan-tulisan yang terdiri dari 18 risalah yang menjelaskan mengenai
dewa-dewa perantara yang memudahkan hubungan tuhan dengan manusia. Menurut
tulisan-tulisan Hermetic dunia ini didiami oleh berbagai macam Dewa-Dewi yang
banyak sekali. Lebih lagi pada tulisan-tulisan Hermetic, mencerminkan mengenai
semangat kebrobokan, dan keorisinilan pemikiran murni serta
kemunduran-kemunduran khayalan berakar dengan kuatnya di kalangan-kalangan
filosof-filosof dan fikiran-fikiran ideal dijadikan cabang ibadat dan mencari
keselamatan.
Plotinos sendiri dilahirkan pada
tahun 205 M di Lykopolis, Mesir[3].
Pada waktu itu Mesir dikuasai oleh Roma dan Plotinos pun meninggal di
Minturnea, Italia pada tahun 270. Mengenai kehidupan Plotinos, tidak banyak
orang yang tahu, patungnyapun tidak ada dan kehidupannya sederhana sekali. Pada
tahun 232 ia pergi ke Alexandria untuk belajar filsafat, pada seorang guru
bernama Animonius Saccas selama 11 tahun[4].
Ia mempelajari filosofi
dari ajaran Yunani, terutama hasil buah pemikiran Plato. Pada umur 28 tahun ia
pun menyadari bahwa ia berbakat menjadi seorang filosof, tetapi disatu sisi ia
merasa bahwa ia belum cukup bekal dan pengalaman, kemudian ia pun memperdalam
pengetahuannya dengan belajar mistik dari Persia dan India yang sangat tersohor
pada waktu itu. Setelah itu ia pun bergabung dalam laskar Gordianus sebagai
serdadu agar dapat menuju tempat ia inginkan. Tetapi laskar tersebut menderita
kekalahan besar, kemudian ia pun berhasil menyelamatkan diri. Karena gagal
menuju Persia dan India ia berangkat menuju Roma. Karena sikapnya yang
sederhana, banyak orang yang menghormati Plotinus, bahkan ada yang mendewakan
Plotinus, namun ia tetap arif dan bijaksana dalam menghadapi kehidupan. Pada usia
49 tahun, Plotinus mulai mengarang dan karangan-karangannya tersebut
dikumpulkan oleh murud-muridnya, Porphyre, yang diberi nama
Tasuat(enneades-kesembilanan), terdiri dari 54 karangan pendek. Karangan
tersebut berisi tentang manusia dan akhlak-akhlak, alam-indrawi dan pertolongan
Tuhan(Inayah Iiahiyah-God’s providence). Kemudian ia membicarakan mengenai
triads Plotinus yaitu, Jiwa, Logos dan Yang Satu. Meskipun demikian, dalam
kenyataannya Plotinus membicarakan berbagai macam persoalan dala satu karangan.
Kemudian, pada usia 65 tahun, Plotinus
memilih untuk bertapa dan meninggal di Minturnea.
Filosofi Plotinus
sering disebut orang neoplatonisme, karena ia memperdalam filosofi dari Plato[5].
Plotinus sendiri tidak semata-mata seorang filsuf, ia juga merupakan seorang
mistikus, hal ini terjadi mungkin karena ia terpengaruh pada kristen atau
filsafat timur. Sebagai seorang mistikus, ia bukan hanya merumuskan metafisika,
melainkan mengacu kepada kembali ke Sang Asal, sumber dari segala sesuatu yang
tidak ada pada ajaran Plato[6].
Apabila Plato mendasarkan ajarannya pada Yang Baik yang meliputi
segala-galanya, ajaran Plotinus berpokok kepada yang satu. Bukan hanya ajaran
Plato yang dijadikan acuan, namun ajaran-ajaran sesudah Plato yang mana
ajaran-ajaran tersebut dapat disesuaikan dengan pandangan agamanya. 3 realitas
yang dimiliki oleh Plotinus adalah The One, The Mind, The Soul[7].
The One(Yang Esa) yaitu
suatu realitas yang tidak mungkin dapat dipahami oleh sains dan logika, jika
kita mencoba mendefinisikannya kita akan gagal. Yang Esa adalah puncah dari
semua yang ada, ia adalah cahaya diatas cahaya. Kita tidak mungkin mengetahui
esensinya, kita hanya mengetahui bahwa ia itu pokok atau prinsip yang berada dibelakang
akal dan jiwa. Ia adalah pencipta semua yang ada, bahkan pada cendekiawan tidak
dapat merumuskan apa Ia sebenarnya (Mayer: 323).
The Mind yaitu gambaran tentang Yang Esa
dan didalamnya mengandung idea-idea Plato. Idea-idea itu merupakan bentuk asli
dari objek-objek. Kandungan Nous adalah benar-benar kesatuan. Untuk menghayati
nya kita harus melakukan sebuah tahapan yang disebut perenungan. Lebih jelas lagi sifat-sifat Akal (Mind)
atau Logos itu ialah: Keluar langsung dari Yang Pertama dan
kedudukannya dalam wujud ini adalah sesuatu yang pertama. Keesaan-Nya
dari segala segi menjadi berbilang dengan akal, sebab dengan adanya
akal, maka ada lagi yang menjadi obyek pemikiran. Akal keluar dari Yang
Pertama bukan dalam proses waktu, sebagaimana wujud abstrak lainnya. Keluarnya akal dari Yang Pertama tidak mempengaruhi
kesempurnaan-Nya, demikian keluarnya yang kurang sempurna dari yang lebih
sempurna. Kesempurnaan ini tidak terpengaruh, sebab apa yang keluar dari pada-Nya, dan kepada-Nya pula bergantung.
Akal keluar dari Yang Pertama dengan sendirinya, tidak perlu mengandung
suatu paksaan atau perubahan pada-Nya. Plotinus mengqiyaskan yang pertama
dengan matahari, yang menyinari alam sekelilingnya tanpa mempengaruhi
keadaannya sendiri. Kedudukan akal di antara semua wujud ialah sebagai pembuat
alam. Akal juga idea-idea dari Plato. Menurut Plotinus, kalau alam abstrak,
yaitu tidak terdapat dalam akal, maka akal tidak mempunyai hakekat, tetapi
hanya gambaran dari yang hakikat[8].
The Soul mengandung satu jiwa dunia dan
banyak dunia kecil. Jiwa manusia engandung dua aspek, yaitu intelek yang tunduk
pada reinkarnasi dan yang kedua adalah irasional. Yang irasional sama dengan
moral pada Kant, yang intelek sama kaitannya dengan akal logis.
Dalam filosofinya, Plotinus hanya
menganggap sains lebih rendah pada metafisika, metafisika lebih rendah dari
keimanan. Surga lebih berarti daripada bumi sebab surga itu tempat
peristirahatan bagi jiwa-jiwa yang mulia. Bintang-bintang adalah tempat tinggal
para dewa-dewa. Ia juga mengaku adanya hantu-hantu yang bertempat diantara bumi
dan bintang-bintang. Semua hal itu menunjukkan begitu burukknya mutu sains
Plotinus. Plotinus dapat disebut juga musuh naturalisme. Ia membedakan dengan
tegas tubuh dan jiwa, jiwa tidak dapat diterjemahkan ke dalam ukuran-ukuran
badaniah, alam harus dipahami sesuai dengan tendensi spiritualnya. Namun, plotinus sendiri juga memalingkan diri dari
pemandangan yang berupa puing-puing dan derita yng terjadi di dunia nyata, agar
dapat berkontemplasi tentang dunia kebaikan dan keindahan yang kekal. Menurut
Plotinus dunia bukanlah tujuan, melainkan hanya sebuah alat untuk mencapai
persatuan dengan Tuhan[9].
Dalam hal ini searah dengan semua tokoh paling serius pada zamannya.
Tujuan filsafat Plotinus ialah tercapainnya kebersatuan
dengan Tuhan. Caranya ialah pertama-tama dengan mengenal alam melalui alat
indera, kemudian kita menuju jiwa dunia, setelah itu menuju jiwa ilahi. Jadi,
perenungan itu dimulai dari perenungan tentang alam menuju jiwa ilahi, dari
yang jamak kemudian pada yang satu. Dalam tahap ini terjadi sesuatu yang sangat
dekat antara kita dengan Tuhan, tidak terpisah lagi anta yang merenung dan yang
direnungkan (Meyer: 332)[10].
Yang
hendak dicapai ialah prinsip realitas, dimana dalam Yang Satu kita dapat
mengenal nya dengan segala kebijaksanaan yang ada dalam diri kita. Didalam kita
ada sesuatu seperti Dia. Dimanapun engkau berada engkau berhadapan dengan
ke-Ada-an-Nya. Engkau merasakan Dia ada didalam engkau (Mayer: 332).
Plotinuspun pernah mensucikan roh dengan cara mengabaikan keduniawian dan jiwa
hidup dalam alam pikiran dan alam roh.
Teori Plotinus tentang Yang Esa bersifat fikiran dan
tasawuf, meskipun kedua sifat ini saling berlawanan. Teori tersebut ada sebagai
akibat percampuran fikiran Yunani dengan agama-agama timur. Plato mencapai
pengetahuan tentang Yang Esa melalui dua jalan yaitu kecintaan dan fikiran.
Plotinus mengambil teori sebagai berikut, “Yang
terbaik pada benda matter adalah bentuk. Kalau benda mengetahui, tentu
mencintai form”. Jadi kebaikan adalah tujuan tertinggi yang bisa dicapai
oleh jiwa yang senantiasa mencintai, namun cinta disini bukanlah cinta karena
kita melihat luarnya[11].
“Selama orang-orang yang cinta hanya dari fisiknya saja, berarti itu bukanlah
cinta. Tetapi dengan mengalami hal yang seperti ini, terbentuklah jiwa yang
tidak terpisahkan. Dengan begitu terbentuklah cinta”.
Cinta
tasawuf adalah cinta yang hakiki yang sempurnadan yang tidak berhubungan dengan
objek tertentu yang terbatas. “Tidak ada patokan cinta dalam kebaikan. Memang
cinta disini tidak mengenal batas, karena yang dirindukan sendiri adalah zat
yang tidak mengenal batas. Keindahannya lain dari keindahan yang biasa. Ia
adalah keindahan diatas semua keindahan yang ada”.
Filsafat
Plotinus menunjukkan bahwa ia menganggap bahwa kehidupan agama sangat berbeda
dengan kehidupan akal fikiran. Berkali-kali Plotinus menegaskan bahwa tidak
mungkin mengetahui hakekat Yang Esa melalui akal fikiran. “Kita melihat Yang
Pertama, kita tidak melihatNya terpisah dari diri kita, melainkan menjadi satu
dengan diri kita”. “Karena itu tidak perlu adanya perantara, karena kita dan
tuhan adalah satu, maka tidak ada jalan untuk memisahkannya”. Penunggalan jiwa
kita dan Tuhan dapat dipahami dengan memakai fikiran-fikiran dari Plotinus
secara keseluruhan. Dapat kita ketahui bahwa cinta merupakan tingkatan
tertinggi bagi pengetahuan akal fikiran, dan cinta ini bukan sesuatu yang
berbeda dari pada pengetahuan.
Sejarah Plotinus menunjukkan bahwa setelah ia selesai
mempelajari filsafat yunani, kemudian ia ingin mempelajari filsafat persia dan
India[12].
Lalu apa pelajaran apa yang didapati Plotinus pada orang Persi? Kepercayaan
mereka yang berpusat pada pemujaan terhadap Mitra. Kepercayaan ini menjadikan
zat yang maha tinggi sebagai sumber sinar yang mengirimkan cahayanya, kemudian
membakar benda dan menyinari kegelapan. Porphyre(murid Plotinus) berkata bahwa
gurunya, Plotinus, selalu asyik dalam mempelajari filsafat orang-orang barbar
dan banyak mengambil bentuk “saya” (Atman) dengan zat universal (Brahman) yang
terdapat dalam buku Upanishad dari India. Dalam filsafat Plotinus juga ditemui
ajaran-ajaran Hindu yang tentu tidak ada pada ajaran Yunani. Yang membedakan
neoplatonisme dan agama yang ada pada waktu itu adalah bahwa filsafat plotinus
tidak mengenal adanya perantara antara Tuhan dengan manusia. Menurut Plotinus,
tuhan tidak jauh melainkan ada dimana-mana, “Hakekat
Tuhan tidak terbatas, jadi ia tidak mempunyai batas. Ini artinya Ia tidak
pergi(tidak kosong) sama sekali. Kalau tidak pergi, maka Ia ada pada segala
sesuatu”.
Filsafat
India juga mengatakan bahwa Brahman(Zat Universal) menjadi asal dari semua
makhluk, dan Atman(saya) tidak berbeda sifatnya dari Brahman. Demikianlah, maka
kita melihat adanya hubungan antara jiwa keseluruhan dan zat universal yang
terdapat pada filsafat Plotinus
BAB
III
PENUTUP
- KesimpulanAjaran Plotinus disebut juga Plotinisme atau neoplatonisme yang tentu saja berkaitan dengan ajaran plato. Plotinisme merupakan suatu sistem yang teosentris, jadi hal ini sama dengan Agustinus. Secara ringkasnya Plotinus merupakan filosof pertama yang mengajukan teori penciptaan alam semesta. Ia mengajukan teori emanasi yang terkenal pada waktu itu dan di ikuti oleh banyak filosof islam. Filsafat Plotinus kebanyakan bernafaskan mistik. Banyak hal yang terjadi sebelum kemunculan neoplatonisme ini, antara lain mundurnya kerajaan romawi yang disebabkan oleh, lemahnya sistem pemerintahan, kekuasaan prajurit yang semena-mena, penduduk kehilangan kebebasannya, kemrosotan ekonomi, inflasi dan korupsi, muncul 2 filsafat, neo-phytagoras dan golongan platoeclecta.
- Daftar PustakaHanafi, A. 1983. Filsafat Skolastik. Jakarta Pusat: Pustaka Alhusna.Hatta, Mohammad. 1986. Alam Pikiran Yunani. Jakarta: UI Press.Imron. 2013. Filsafat Umum. Palembang:Noer Fikri Offset.Poedjawijayatna. 1980. Pembimbing Kearah Alam Filsafat. Jakarta Timur: Rineka Cipta.Tafsir, Ahmad.1998. Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales sampai James. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
[1] A. Hanafi, Filsafat Skolastik(Jakarta Pusat:
Pustaka Alhusna, 1983), hlm. 47
[3] Hatta Mohammad, Alam Pikiran Yunani(Jakarta: UI Press,
1986), hlm. 165
[4] Tafsir Ahmad, Filsafat Umum: Akal dan Hati sejak Thales
sampai Capra(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1998), hlm. 67
[5] Hatta Mohammad, Alam Pikiran Yunani(Jakarta: UI Press,
1986), hlm. 166
[7] Tafsir Ahmad, Filsafat Umum: Akal dan Hati sejak Thales
sampai Capra(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1998), hlm. 68
[9] Prof. Ir. Poedjawijayatna, Pembimbing Kearah Alam
Filsafat, P.T. Pembangunan Jakarta 1980 hlm. 45
[10] Tafsir Ahmad,
Filsafat Umum: Akal dan Hati sejak Thales
sampai Capra(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1998), hlm. 74
[11] A. Hanafi, Filsafat Skolastik(Jakarta Pusat:
Pustaka Alhusna, 1983), hlm. 69
[12] A. Hanafi, Filsafat Skolastik(Jakarta Pusat:
Pustaka Alhusna, 1983), hlm. 71
Komentar
Posting Komentar